Apakah Anda tahu bahwa untuk mendapatkan pasangan hidup pun ada tarifnya yang harus dipenuhi? Kagak percaya lihat azah tuh tarif2 yang mereka pasang di iklan cari jodoh: "Dicari pasangan - pendidikan minimum S1, punya penghasilan tetap usia maximum 35 th dst-nya."
Kadang2 kalau kita membaca iklan cari jodoh itu, sama seperti juga perusahaan yang sedang mencari karyawan, dimana persyaratan pendidikan, penampilan maupun usia telah ditentukan sebelumnya. Padahal kalho kita renungkan orang yang udah punya titel berderet sekalipun banyak yang nganggur, begitu juga dengan usia, ini semuanya tidak akan bisa menjamin untuk bisa memberikan kesejahteraan hidup bagi Anda.
Kita pasang tarif dengan ber-macam2 persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pasangan kita, tanpa kita sendiri sadar, ato mo ngaca, siapa diri kita ini? Tetapi paling lambat 10 th lagi, dimana usia semakin bertambah, mulailah kita sadar, bahwa untuk mencari pasangan hidup itu sebenarnya tidak perlu pasang tarif segala macam. Tarif ato persyaratan yang dipasang pada usia 20 th akan berbeda jauh dengan persyaratan pada saat kita mencapai usia 30 th atau lebih dan paling lambat pada usia 35 th semua persyaratan yang diajukan sebelumnya akan hilang dengan sendirinya, yang penting laku, yang penting dapat jodoh, sama seperti sayuran yang udah layu dipasar boro2 ada yang mo beli, yang mo lihat azah ora ono. Udah jadi barang obralan begitu.
Lebih lucu lagi, kalau kita melihat di kolom "status", cowo pada umumnya mencantumkan status "Perjaka", tetapi apakah ini perjaka tulen ato perjaka gurem, siapa yang mo ambil pusing, tetapi kalau seorang gadis mencantumkan status "perawan" maka ini harus di check dan dibuktikan dahulu keasliannya.
Saya setuju untuk hal2 tertentu diajukan persyaratan umpamanya Agama, agar dari awal mula jelas bahwa kita hanya bersedia untuk menikah dengan orang yang memiliki agama yang sama, tetapi apakah Anda tahu bahwa ribuan pria maupun wanita bersedia ganti agama hanya demi untuk perkawinan sehari saja, mereka ganti agama seperti layaknya ganti pakaian begitu, jadi tidak mempunyai rasa tanggung jawab maupun kewajiban untuk menjalani agamanya dengan serious. Disamping itu harus diakui, bahwa agama Kristen itu tidak sama dengan Katolik dan Protestan itu juga beda dengan Karismatik ataukah ini masih bisa dinilai sebagai pasangan seiman yang memiliki agama yang sama?
Disamping itu harus diakui, bahwa agama yang samapun tidak merupakan satu jaminan untuk bisa mencapai kebahagiaan dlm pernikahan, tetapi yang sudah bisa dipastikan minimum akan mengurangi permasalahan dikemudian hari umpamanya dlm soal pendidikan anak.
Walaupun itu adalah suatu kebodohan jika kita menginginkan pasangan kita harus begini atau begitu. Hal ini terjadi pada umumnya karena keinginan dan dorongan sifat kedagingan kita seperti yang tercantum dlm
No comments:
Post a Comment